8 Penyebab Umum Ban Mobil Tidak Awet

Mempertahankan kondisi ban mobil agar tetap awet memang gampang-gampang susah. Fungsinya yang cukup vital tentu saja menuntut perhatian lebih dari sang pemilik mobil. Pun demikian, terkadang ada banyak sekali hal teknis maupun perilaku berkendara yang kerap diabaikan oleh para pemilik mobil, yang akibatnya bisa sangat fatal terhadap umur pakai ban.

Karena itulah, berikut kami hadirkan 8 penyebab umum yang biasanya dapat berakibat buruk terhadap umur pakai ban, sehingga ke depannya Anda dapat lebih aware terhadap pentingnya melindungi dan merawat ban mobil kesayangan Anda :

1. Tekanan Angin Kurang atau Terlalu Kencang

Ini merupakan salah satu kelalaian yang paling sering dilakukan oleh para pemilik mobil. Padahal tekanan ban yang tidak sesuai rekomendasi produsen mobil merupakan salah satu penyebab utama yang berpotensi merusak ban atau mempersingkat usia pakainya.

Jika ban kempis : Ban yang tekanan anginnya kurang (kempis) dapat membuat hambatan gulir (rolling resistence) bertambah, alhasil ban kemudian menjadi ekstra panas dan akhirnya mengurangi daya tahannya. Bila kondisi ini sering terjadi atau berlangsung dalam jangka waktu lama akan menyebabkan keausan di sisi kiri dan kanan ban dan berpoptensi terhadap ban pecah.

Jika ban terlalu kencang : Ban dengan tekanan angin yang terlalu tinggi akan menciptakan bentuk menonjol di bagian tengah tapak. Dampaknya, area tengah itu menanggung seluruh beban dan bobot mobil hingga memaksanya aus lebih cepat dibanding area pinggir. Plus, daya cengkeram ban menjadi tidak maksimal sehingga sangat berbahaya saat melewati jalan basah.

Solusi : Pastikan Anda menggunakan ban dengan tekanan angin yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Anda bisa melihat aturannya di buku petunjuk berkendara atau label yang ditempel di pilar dekat pintu pengemudi. Di sana tercantum tekanan angin ban depan dan belakang dengan kondisi mobil kosong atau membawa penumpang.

2. Whell Alignment Tidak Sesuai Standar

Faktor lain yang dapat mempengaruhi masa pakai atau umur ban adalah whell alignment alias keselarasan roda.

Jika wheel alignment tidak tepat : Dapat menyebabkan keausan atau kerusakkan ban. Contohnya bila camber-nya negatif akan menyebabkan sisi dalam ban akan lebih cepat aus. Sebaliknya, bila camber positif maka sisi luar ban yang menipis lebih dulu. Untuk aplikasi jalan raya camber seharusnya ‘nol’.

Efek lainnya : Wheel alignment yang tidak tepat juga bisa membuat tapak ban bergelombang atau menggelembung, atau biasa dikenal dengan sebutan cupping atau scalopping.

Solusi : Agar semua masalah tersebut tidak terjadi, Anda hanya perlu melakukan penyelarasan ulang di bengkel secara berkala atau setiap 20.000 km.

3. Gaya Mengemudi yang Terlalu Agresif

Yang dimaksud dengan ‘gaya mengemudi terlalu agresif’ disini meliputi gaya mengemudi seperti : berakselerasi hingga ban spin, menikung dengan kencang dan kerap melakukan hard braking.

Jika mengemudi terlalu agresif : Bisa merusak tapak ban. Yang bisa terjadi adalah keausan pada satu titik (spot wear) yang membuat ban tak lagi bundar atau terkikis secara tidak wajar (thread chipping).

Solusi : Perbaiki gaya mengemudi Anda, kecuali jika Anda memang seorang drifter yang menuntut gaya mengemudi seperti itu di lintasan.

4. Sering Melalui Jalanan yang Rusak

Khusus untuk yang satu ini memang hampir tidak ada obat penawarnya. Hampir semua jalanan di Indonesia baik itu perkotaan maupun pedesaan, selalu dihiasi dengan lubang atau permukaan yang tidak rata. Tak ayal jika kemudian banyak pengemudi yang entah disengaja ataupun tidak, menghantam lubang yang menganga di tengah jalan.

Kesalahan seperti ini dapat menyebabkan cedera pada ban seperti pecah atau benjol. Kerusakkan bisa makin parah bila benturan terjadi saat ban dengan tekanan angin di bawah standar yang ditentukan.

Solusi : Jika memungkinkan, carilah alternatif jalur lainnya yang tidak terlalu banyak mengalami kerusakan, terutama yang memiliki lubang. Namun jika terpaksa melewati jalur tersebut, usahakan untuk berkendara dengan kecepatan pelan agar benturan pada ban tidak terlalu berdampak besar.

5. Mobil Terlantar Hingga Berminggu-Minggu

Percaya atau tidak, membiarkan mobil terlantar atau diam di satu tempat selama berminggu-minggu atau waktu yang lama bisa menyebabkan flat spot pada ban. Ini adalah bagian ban yang menjadi rata akibat tumpuan pada satu titik dalam jangka waktu lama.

Solusi : Jika ingin menyimpan mobil dalam waktu yang lama, pastikan Anda menggunakan jack stand untuk mencegah kontak langsung antara ban dengan lantai garasi.

6. Membawa Beban Melampaui Load Index Ban

Load index adalah kemampuan ban dalam menopang beban. Rumusnya, semakin tinggi load index, maka semakin tinggi kemampuan menerima bebannya. Bila ban menahan beban melebihi load index-nya bisa mempercepat keausan tapak dan bahkan merusak dinding ban.

Solusi : Pahami betul berapa batas maksimal load index ban mobil Anda. Pastikan Anda tidak melanggar aturan tersebut untuk memastikan agar usia ban bisa berumur cukup lama.

7. Membiarkan Kerikil Nyelip di Ban

Sepele memang, ada kalanya batu kecil atau kerikil kerap ditemui di sela-sela telapak ban. Perlu Anda ketahui bahwa tajamnya kerikil dapat merobek ban dan menyebabkan air masuk ke dalam kontruksi ban.

Dalam jangka panjang, kondisi ini akan merusak kontruksi anyaman kawat baja dalam ban akibat korosi. Kekuatan dan daya tahan ban pun terancam, bahkan bisa menyebabkan ban tidak bisa dipakai sama sekali.

8. Tidak Melakukan Rotasi Secara Berkala

Rotasi ban dapat mencegah terjadinya keausan tidak merata pada ban. Karena itulah rutin melakukan rotasi termasuk salah satu cara untuk memperpanjang usia pakai ban. Penukaran sebaiknya dilakukan setiap 5.000 km dengan pola depan-belakang, yaitu ban depan ditukar dengan ban belakang. Bersamaan dengan itu, periksa pula tire wear indicator (TWI) yang berada di alur ban untuk memastikan usia pakainya tidak terlewat.

Tags: ,