Dampak Virus Corona terhadap Harga Barang

Virus Corona yang menyebabkan pandemi COVID-19 ini semakin membuat masyarakat khawatir. Dengan adanya lebih dari 3 ribu kasus positif Virus Corona di Indonesia, kondisi Indonesia semakin hari semakin tidak menentu. Selain menyerang kondisi kesehatan masyarakat, kondisi perekonomian negara pun mulai terganggu dengan meluasnya penyebaran pandemi ini, termasuk dampak Virus Corona terhadap harga barang.

Karena serangan Virus Corona yang kasus pertamanya berasal dari Wuhan ini, aktivitas sehari-hari menjadi tidak bisa dilakukan dengan leluasa, seperti bekerja, pergi ke sekolah, dan aktivitas-aktivitas luar ruangan yang lain.

Terbatasnya aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat membuat sistem perekonomian menjadi semakin melemah. Namun pada pembatasan aktivitas ini, masyarakat tentunya memerlukan keperluan sehari-hari untuk tetap bisa bertahan hidup.

Dampak Virus Corona terhadap Harga Barang
Semenjak kemunculannya pertama kali, Virus Corona makin membuat masyarakat khawatir. Karena virus ini mudah menular secara kontak langsung, yaitu melalui droplet yang jika masuk ke hidung, mulut, atau mata, virus tersebut akan dapat menginfeksi tubuh inangnya.

Karena itulah, untuk mencegah terjadinya penularan Virus Corona, masyarakat dilarang berada di luar ruangan dalam waktu yang lama, karena dapat muncul kemungkinan adanya kerumunan orang.

Semenjak diberlakukannya social distancing di Indonesia, ada sebuah fenomena yang muncul. Panic buying, hal ini memiliki arti kegiatan membeli atau berbelanja dalam jumlah besar untuk bisa bertahan hidup. Barang-barang yang dibeli adalah bahan-bahan pangan pokok, seperti sembako dan keperluan sehari-hari yang lain.

Tentunya masker dan hand sanitizer juga menjadi sangat langka di sejumlah toko atau minimarket, bahkan supermarket. Karena menjadi langka, harga masker dan hand sanitizer kini mulai banyak yang melambung tinggi.

Begitu juga dengan harga keperluan sehari-hari yang lain. Dampak Virus Corona terhadap harga barang menjadi semakin naik. Jika terjadi permintaan yang tinggi terhadap suatu barang namun barang tersebut tidak berproduksi sejumlah yang seharusnya memenuhi permintaan, maka harga barang tersebut akan naik.

Inilah yang sedang terjadi dalam perekonomian akibat Virus Corona ini. Barang-barang yang telah habis diborong oleh masyarakat yang khawatir dengan menyebarnya Virus Corona, akan mengalami kenaikan harga barang.

Apalagi kondisi perekonomian seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh negara yang mengalami pandemi COVID-19. Artinya, alur perekonomian dunia sekarang memang menjadi semakin melemah. Menurunnya aktivitas ekspor dan impor karena pembatasan aktivitas yang diterapkan pada masyarakat, membuat sistem perekonomian ikut terbatasi.

Kondisi Dolar di Tengah Pandemi COVID-19
Kondisi kurs mata uang terhadap dolar mengalami naik-turun. Rupiah sendiri menjadi semakin melemah dibanding kurs terhadap dolar ketika sebelum pandemi Virus Corona ini dimulai.
Bahkan, kondisi terlemah Rupiah terhadap Dolar adalah ketika kurs Rupiah terhadap Dolar tembus 16 ribu. Hal ini membuat masyarakat khawatir. Karena itu, harga barang di Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan.

Hal ini tentu juga berdampak pada kegiatan ekspor dan impor dari Indonesia. Harga barang yang mengalami kenaikan sendiri akan menjadi masalah serius bagi masyarakat. Dengan terbatasnya kegiatan bekerja, masyarakat akan semakin susah mendapatkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi dengan terjadinya panic buying seperti yang telah dijelaskan tadi, dikhawatirkan masyarakat akan semakin susah mendapatkan keperluan sehari-hari untuk tetap bisa bertahan hidup.

Begitulah penjelasan mengenai dampak Virus Corona terhadap harga barang yang semakin hari semakin mengkhawatirkan masyarakat. Perekonomian negeri yang ikut terkena imbas dari pandemi COVID-19 ini mencoba bertahan agar dapat tetap stabil. Beberapa kebijakan pemerintah untuk membantu masyarakatnya agar tetap bisa memenuhi kebutuhannya telah diberlakukan.